Kekuatan yang Tak Terbendung dari Gereja – Efesus 4 : 1-13

Bincang Bestari Episode 7 Pdt. Ardi Yusuf Wiriadinata, M.Th, S.Psi

Tsunami terdiri dari air. Air yang bersatu bersama-sama, bergabung dan membangun suatu kekuatan diberikan daya yang begitu besar oleh karna gempa bumi yg terjadi dan mebentuk satu kesatuan air yang berkumpul, bersatu dan memiliki kekuatan yang dahsyat, yang kita kenal sebagai tsunami dan kita tau betapa dahsyatnya kehancuran dan bahkan kematian yang diakibatkan oleh tsunami tersebut.

Tsunami tersebut inilah gambaran dari sebuah gereja. Gereja Tuhan menjadi kekuatan yang tidak terbendungkan dan kita melihat dalam Kisah Para Rasul bahwa kejadian ini pernah terjadi, bahwa di mana orang-orang percaya bersatu dan menjadi kekuatan yang tak terbendungkan, menyebar begitu cepat karena Tuhan adalah daya itu dan Tuhan ada di dalam gereja-Nya. Ketika gereja bersatu, gereja yang terdiri dari satu, satu orang, kita semua bersama-sama bersatu sebagai gereja, dapat menjadi kekuatan yang tak terbendungkan.

Kalau kita sadari, kita patut bersyukur bahwa kita adalah hasil dari penyebaran kekuatan yang tak terbendungkan yaitu gereja Tuhan yang dimulai sejak hari Pentakosta dan kita lihat bagaimana gereja itu terus berkembang sampai dengan sekarang. Kekuatan inilah yang meneruskan gerakan dari sejak Yesus Kristus mati di kayu salib, dibangkitkan dan sejak Yesus Kristus memberikan kepada kita curahan Roh Kudus, dan sebagai gerejaNya kita punya tanggung jawab untuk meneruskan hal tersebut.

Dalam kitab Efesus ada tiga lapis dari kepenuhan. Dari pasal yang pertama dan pasal ketiga berbicara tentang kepenuhan di dalam Yesus Kristus, yaitu:

Bagaimana Yesus yang menjadi Kristus yang menjadi Juruselamat sudah mati di kayu salib dan bangkit kembali sehingga Ia memiliki wujud yang ada di mana-mana dan di dalam Yesus ada kepenuhan Kristus. Bagian yang kedua di Efesus.

Pasal ketiga di Efesus kita belajar tentang kepenuhan pribadi

Kita mengenal kasih Kristus, kita sungguh-sungguh dapat mengenal di dalam kepenuhan Kristus di dalam diri kita pribadi.

Pasal yang kedua dan pasal yang ke-empat tentang kepenuhan gerejawi

Kasih Kristus yang tak terbatas, yang begitu lebar, panjang, tinggi, dan kita sebagai anak-anak Tuhan bersatu dalam jemaat Tuhan, kita dapat merasakan kepenuhan Kristus di dalam gereja- Nya.

Kepenuhan Kristus akan menjadi hal yang esensial jika kita mau menjalankan misi Allah, yang menyelamatkan semua suku, semua bangsa, untuk dapat mengenal Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, menerima-Nya dan beriman kepada-Nya. Oleh karna itu, kita dapat menjadi satu kekuatan yang tak terbendungkan, sebagaimana kita lihat di Kisah Para Rasul. Bagaimana Tuhan menambahkan setiap hari orang-orang yang percaya kalau kita dapat mengalami kepenuhan Kristus di dalam gereja sebagai anak-anak Tuhan.

Tuhan sendiri yang membangun dan membentuk gereja, dan Tuhanlah yang memberikan apa yang diperlukan oleh gereja, yaitu karunia, pemberian, peran dari masing-masing jemaat yang dilakukan sebagai sebuah kesatuan yang utuh dalam tubuh Kristus.

Dalam kitab Efesus 4 : 1-13, ada kata kunci yang dapat kita serap yaitu Ia telah berpesan untuk mendirikan gereja-Nya, kepalanya satu, dan peruntukkanya juga satu yaitu Yesus Kristus Tuhan Allah Juruselamat kita.

Paulus ingin kita memahami bahwa kita sebagai satu tubuh, yang terdiri dari banyak bagian, satu Roh yang dipanggil dalam satu pengharapan, satu panggilan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan satu Bapa dari semua. Sebagai gerejanya kita harus bersatu dalam satu kesatuan gereja Tuhan dan kita akan menjadi kekuatan yang dahsyat, yang akan merubah dunia ini.

Kata kunci yang kedua, yang dapat kita pahami, yaitu semua ini adalah pemberian Tuhan yang telah mendirikan gereja.

Ada lima peran kepemimpinan ideal yang harus ada di dalam gereja Tuhan. Pendeta Ardi Yusuf W memberikan singkatan yaitu RaNa Pipi GemPeng, yaitu Rasul-Rasul, Nabi-Nabi, Pemberita Injil, Gembala, dan Pengajar. Dalam gereja Tuhan yang utuh dan bersatu, telah mengaruniakan dan telah memberikan lima peran ini. Bisa kita perhatikan bahwa peran kepemimpinan dari RaNa Pipi GemPeng ini, yaitu:

  1. Rasul yang mempunyai sifat pendobrak, punya ide-ide baru, punya inovasi, pengembang.
  2. Nabi di dalam Alkitab mempunyai peran khusus yang mengarahkan, mengingatkan agar gereja Tuhan dapat setia kepada visi yang telah Tuhan berikan.
  3. Pemberita-Pemberita Injil adalah orang-orang yang memounya sifat untuk mencari jiwa- jiwa baru dan mereka fokus kepada yang tersesat.
  4. Gembala-Gembala adalah pemimpin-pemimpin gereja yang punya sifat yang lembut, dia mau merawat, membuat nyaman, memberi dorongan, peduli, tulus, mengasihi, mengayomi jemaat-jemaat Tuhan, domba-domba Tuhan.
  • Pengajar-Pengajar adalah yang memiliki pengertian, pemahaman akan Firman Tuhan yang sungguh luar biasa dan orang-orang ini memiliki karunia untuk dapat menjelaskan sesuatu yang sulit.

Jika kita sadar, Alkitab mengatakan Tuhan mengaruniakan setiap gereja, akan memiliki lima peran kepemimpinan ini tujuannnya untuk memperlengkapi sesama jemaat, untuk memperlengkapi tubuh Kristus dan supaya kepenuhan Kristus dapat dialami di gereja Tuhan. Kepenuhan Kristus inilah yang membuat gereja Tuhan kuat, utuh, memiliki kesatuan iman, memiliki pertumbuhan kedewasaan iman, dan pengetahuan yang benar tentang Yesus Kristus.

https://www.youtube.com/watch?v=_AU418MQEQw

“MEMBUAT ALLAH DIKENAL MELALUI KELUARGA KITA” – EFESUS 5 : 22-33 & 6 : 1-9

BINCANG BESTARI EPISODE 11 OLEH PDM. KRISNA WAHYU SURYA

Dari Efesus pasal 5 ayat 22 hingga pasal 6 ayat 9, kita akan bersama-sama menyimak bagaimana perkembangan mulai dari pernikahan hingga membentuk sebuah keluarga. Kita akan bersama-sama belajar mengenai apa saja kehendak dan hikmat Allah untuk setiap keluarga Kristen.

Ketika kita memasuki pernikahan, itu berarti kita juga sedang membangun hubungan dengan keluarga lain, dan seiring berjalannya waktu, maka akan lebih banyak relasi yang dibuat. Dan dari banyaknya relasi yang kita buat, maka dari situ juga kita akan mengenalkan Allah kepada lebih banyak orang.

Di bagian yang pertama dari pasal 5 ayat 22-33 berkata demikian: 22Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 23karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 24Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. 25Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 26untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 27supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. 28Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. 29Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, 30karena kita adalah anggota tubuh-Nya. 31Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. 32Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. 33Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.”

Ada tanggungjawab yang merata antar peran di suatu keluarga. Teruntuk istri, diharuskan tunduk kepada suami dalam segala hal, layaknya kepada Tuhan. Karena suami merupakan kepala sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Sama halnya organisasi maupun institusi yang ada, mereka memiliki kepala atau ketua, begitu pula yang dikehendaki Allah dalam setiap pernikahan bahwa suami ada di atas istri. Hal ini adalah suatu kehormatan untuk setiap istri yang melakukan kehendak Allah untuk tunduk kepada suami. Dalam ayat yang ke-31, dipertegas bahwa ini semua adalah kehendak Allah sejak awal.

Dan untuk para suami, disebutkan tanggungjawabnya dari ayat yang ke-25 sampai ayat ke-30, suami harus mengasihi istri mereka. Sama seperti Kristus mengasihi gereja dan mengorbankan Dirinya, demikian pula para suami harus mengasihi istri dengan kasih yang berkorban. Ketika Kristus memikirkan jemaatNya, maka suami berkorban karena memikirkan apa yang baik, menguntungkan, dan memberkati kepada istrinya. Dengan begitu, para suami juga sedang melakukan kehendak Allah.

Kita beberapa kali mendengar berkenaan dengan istri yang melakukan pekerjaan yang lebih baik dari suami, atau memiliki posisi yang lebih baik dari suaminya, tetapi kita tidak boleh melupakan tugas istri untuk tunduk pada suami, dan tugas suami untuk mengasihi dan berkorban untuk istrinya.

Pada bagian yang kedua dari pasal 6 ayat 1-9 berkata demikian: 1Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. 2Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: 3supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. 4Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. 5Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, 6jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, 7dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia. 8Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan. 9Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.”

Bagian ini adalah pembelajaran lebih mendalam berkenaan dengan keluarga dalam artian yang lebih luas. Bagian dalam keluarga yang lain adalah anak. Anak mempunyai tugas dan tanggungjawabnya sendiri yaitu untuk mematuhi orang tuanya dengan mematuhi mereka. Tugas dan tanggungjawab ini mempunyai manfaatnya sendiri baik manfaat sementara maupun manfaat spiritual yang bersifat kekal. Manfaat sementaranya yaitu agar anak berbahagia dan panjang umur di bumi. Sementara dalam Kolose 3:20 berkata: “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan.” ini adalah manfaat yang kekal.

Melalui keteladanan ayah yang mengasihi ibu dan ibu yang menghormati ayah, anak juga diharapkan dapat melaksanakan tugas ini untuk menghormati kedua orang tuanya. Juga dari ayat yang ke-4, ayah dilarang untuk membangkitkan amarah di dalam hati anak, tapi ayah dituntut untuk mendidik, melatih, dan membimbing anak-anaknya dengan ajaran yang daripada Tuhan. Namun, ada beberapa orang tua terlebih figur ayah yang terlalu disiplin dan tegas kepada anaknya dan mengabaikan tugas lainnya yaitu untuk mengasihi anak-anaknya. Serta, adapula ayah yang terlalu mengasihi anak-anaknya hingga melupakan tugasnya untuk membimbing dan mendidiknya dengan tegas terlebih ketika anak sedang melakukan kesalahan. Keseimbangan pengajaran yang dilakukan seorang ayah antara mendidik dengan tegas dan mengasihi anaknya, dapat menjadi sebuah kesaksian bagi anak-anak lain dan bagi ayah yang lain tentang bagaimana hubungan kekeluargaan yang baik di dalam Tuhan.

Peran dan tanggungjawab lain dalam keluarga disebutkan yaitu antara hamba dan tuannya. Di dalam ayat 5-8 terdapat beberapa tanggungjawab sebagai seorang hamba. Yaitu untuk menaati tuannya dengan perasaan takut, gentar, dan dengan tulus hati sama seperti kepada Kristus. Para hamba diajarkan untuk mempunyai niat baik dalam setiap pekerjaannya, serta berprinsip bahwa pada akhirnya Tuhan adalah Hakim atas segala perbuatannya. Ketika hamba melakukan tanggungjawabnya dengan baik, maka ia dapat pula menjadi saksi untuk orang-orang di sekitarnya. Sementara untuk tugas dan tanggungjawab sebagai tuan, dijelaskan pada ayat yang ke-9. Para tuan diajarkan untuk juga melakukan tanggungjawab yang seperti para hamba yaitu untuk taat, takut, gentar, dan tulus hati sama seperti kepada Tuhan, dengan niat baik dan tidak diperbolehkan untuk mengancam hambanya karena Allah tidak memandang muka.

Apapun peran kita di dalam keluarga, mari kita melakukan setiap tugas dan tanggungjawab kita dengan benar. Baik sebagai istri, suami, anak, hamba, maupun sebagai tuan. Karena ketika kita sudah menjalankan tugas dan tanggungjawab, kita dapat menjadi saksi bagi orang lain tentang bagaimana indahnya keluarga yang ada di dalam dan yang dipimpin oleh Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. Amin!

https://www.youtube.com/watch?v=U0ofSrmUjc0

“BERJALAN SEBAGAI TERANG DAN BERJALAN DENGAN ARIF” – EFESUS 5 : 8-21

BINCANG BESTARI EPISODE 10 OLEH PDM. KRISNA WAHYU SURYA

Episode kali ini dibagi menjadi 2 bagian yaitu hidup sebagai terang dan hidup dengan arif. Bagian pertama kita akan belajar dari ayat yang ke-8 hingga ayat ke-14.

8Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, 9karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, 10dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. 11Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. 12Sebab menyebutkan saja pun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan. 13Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang. 14Itulah sebabnya dikatakan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.”

Sebelum kita percaya, kita berada di kegelapan. Di pasal yang ke-2 mencerminkan bagaimana kehidupan kita yang saat itu berada di kegelapan lalu menerima kasih karunia dengan cuma-cuma, dan kini hidup sebagai terang. Eksistensi kita saat ini, sudahlah menjadi anak-anak terang. Ketika kita sudah menjadi terang, maka sudah seharusnya terdapat perbedaan yang signifikan ketika masih ada di dalam kegelapan dan sekarang sudah sebagai terang. Kita kini hidup sebagai terang dan bukan sekedar hidup di dalam terang. Ketika kita berjalan dan ada lampu yang menerangi kita maka itu artinya kita hidup di dalam terang. Namun, kita adalah terangnya. Lalu, ketika kita sudah hidup sebagai terang, maka kita akan menghasilkan buah-buah yang juga bisa dinikmati oleh orang lain. Yaitu buah-buah kebaikan, keadilan, dan kebenaran. Kualitas kebaikan dikatakan sebagai kualitas menjadi baik dan berbudi luhur, kualitas keadilan dikatakan sebagai kualitas menjadi adil dan moralitasnya dapat dipertanggungjawabkan, sedangkan kualitas kebenaran adalah kualitas menjadi benar berdasarkan fakta maupun realita. Maka, ketika kita sudah hidup dengan kualitas-kualitas tersebut itu artinya kita sudah menjadi terang dan sudah berbuah.

Sebagai terang, ketika kita memasuki satu kegelapan, sudah menjadi tanggungjawab kita untuk menyingkapkan kegelapan tersebut. Kita seharusnya berani mengungkap setiap perilaku, perbuatan, dan perkataan yang buruk. Ketika kita berjalan sebagai terang, maka kita juga memberikan teladan dan dapat menunjukkan perbedaan yang kontras antara kegelapan dan terang.

Pdm. Krisna menceritakan masa kecil beliau ketika memperhatikan seorang tukang patri (tukang reparasi/tambal peralatan rumah tangga yang berasal dari logam). Saat tukang patri itu datang, dia akan membunyikan suatu alat sebagai tanda kehadirannya. Ketika ada ibu-ibu yang membutuhkan jasanya, ibu itu akan datang dan memberikan peralatan dapurnya yang rusak. Panci atau peralatan lain yang rusak, oleh tukang patri tersebut akan diangkat dan dengan bantuan sinar matahari, dia akan tahu bagian mana yang berlubang. Sinar matahari atau sumber terang yang lain yang membantu tukang patri itu untuk mengecek lubang dari panci tersebut berulang kali hingga lubangnya berhasil tertambal kembali. Sama halnya dengan kita, kita seharusnya ada untuk mengungkap bentuk-bentuk kegelapan yang ada.

Namun, ada satu hal yang boleh kita ingat yaitu karya untuk menjadi terang itu berasal dari Tuhan Yesus, karena Ia adalah Terang yang Sejati. Oleh karena itu, dikatakan oleh banyak ahli bahwa ayat yang ke-14 merupakan suatu pujian untuk orang-orang yang baru percaya. Karena ketika kita mengaku percaya, maka terang yang daripada Yesus akan tercurah untuk setiap kita. Untuk menjadi terang, kita harus terhubung terlebih dahulu dengan Tuhan Yesus.

Lalu, bagaimana cara agar kita bisa untuk hidup sebagai terang? Maka dari itu, diperlukanlah wisdom atau kearifan. Bagian yang kedua, kita akan belajar dari ayat yang ke-15 hingga ayat ke-21. 15Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, 16dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. 17Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. 18Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, 19dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. 20Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita 21dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.

Dalam ayat-ayat ini ada sebuah perintah untuk memperhatikan dengan seksama, dan menggunakan sebuah perbandingan dengan orang bebal yang tidak peduli dengan apapun yang terjadi sedangkan kita sendiri diajarkan untuk hidup dengan kewaspadaan, kearifan, dan dengan seksama. Dalam ayat yang ke-16 dijelaskan tentang bagaimana caranya. Yaitu dengan mempergunakan dan membeli waktu yang ada. Kita diajarkan untuk menggunakan waktu dengan arif dan bijak karena hari-hari ini adalah jahat dan menjebak kehidupan keimanan kita.

Tuhan Yesus ingin kita menjadi bijak dan arif. Dalam Ulangan 4 : 5-6, Israel menunjukkan hikmat dan kebijaksanaannya dengan melakukan kehendak Tuhan. Hanya jika kita memahami kehendak Tuhan, maka kita dapat memilih atau memanfaatkan waktu dengan bijak. Dalam ayat 18-21, orang bebal digambarkan sebagai orang yang hidupnya dipenuhi oleh anggur hingga mabuk, sedangkan orang arif hidupnya dipenuhi oleh Roh Kudus.

Ada 3 indikasi dari seorang yang hidupnya dikuasai Roh Kudus berdasarkan ayat 19-21. Yaitu hidupnya dipenuhi dengan pujian dan mazmur, ucapan syukur, dan kerendahan diri. Jadi, sudahkah kita saling menunjukkan kerendahan hati antara seorang Kristen akan yang lain?

Mari terus berjalan dan hidup sebagai terang, yang akan mengungkap segala kegelapan dan memusnahkannya. Mari senantiasa menjadi terang sesuai dengan petunjuk Firman Tuhan yang sudah kita pelajari bersama. Dan mari kita juga hidup dengan arif, menanggapi dengan bijak hari-hari yang jahat ini.

Sebagai penutup, Pdm. Krisna mengutip tulisan Pdt. Yosia Wartono di dalam bukunya yang berjudul ‘Interdependensi dalam Kehidupan Bergereja’ menyatakan keadaan dunia pada saat ini yang semakin jahat dalam berbagai rupa kegiatan yang selama ini dekat dengan kita. Dunia boleh makin jahat, tetapi kehadiran kita sebagai terang dapat memenangkan pertarungan yang ada di udara untuk melawan kuasa jahat dan untuk terus senantiasa mengabarkan Injil ke seluruh dunia. Tuhan Yesus memberkati. Amin!

https://www.youtube.com/watch?v=PKaLN6pBgJU

“BERJALAN DALAM KASIH” – EFESUS 5 : 1-7

BINCANG BESTARI EPISODE 09 OLEH PDM. KRISNA WAHYU SURYA

Efesus dibagi menjadi 2 bagian besar. Pasal 1-3 merupakan bagian pengajaran atau doktrinal, berkaitan dengan berkat Ilahi yang kita terima. Pasal 4-6 bersifat praktikal, mengajarkan kita untuk menghidupi apa saja yang diajarkan dalam bagian yang pertama. Pada pasal yang ke-5 ayat 1-7, kita akan belajar bagaimana seharusnya kita menghidupi panggilan pelayanan kita dan berjalan di dalam kasih bersama dengan Tuhan.

Efesus 5:1-7 berkata demikian: 1Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih 2dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. 3Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut saja pun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. 4Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono — karena hal-hal ini tidak pantas — tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur. 5Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.6Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka.7Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka”.

Mengapa berjalan dalam kasih begitu penting? Dalam ayat yang pertama, Paulus ingin agar kita menjadi penurut-penurut Allah. Penurut bisa diartikan sebagai  follower(pengikut)atau initater(peniru). Allah yang adalah kasih, sehingga kita sebagai penurutNya juga harus mengikuti dan meniru kasihNya.

Bagian pertama dari ayat 1 dan 2, kita belajar bahwa berjalan dalam kasih dimulai dengan cara meneladani Tuhan Yesus. Sebagaimana Tuhan Yesus yang telah mengasihi dan menyerahkan diriNya untuk kita, maka mari kita akan terus memberi diri untuk berkorban, mengasihi serta mempersembahkan seluruh kehidupan kita sama seperti yang dilakukan Tuhan Yesus. Di dalam Yohanes 13 : 34-35 ditegaskan demikian: 34Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. 35Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” Tuhan sudah lebih dulu mengasihi kita, maka ini saatnya kita untuk mengasihiNya dan mengasihi dunia, untuk menyatakan diriNya di dalam kita, anak-anakNya.

Di bagian yang kedua kita akan belajar lebih dalam lagi berkenaan dengan berjalan dalam kasih yang murni. Seperti apakah wujud kasih yang murni yang diharapkan oleh Paulus agar kita lakukan? Dalam ayat yang ke-3 hingga yang ke-7, disebutkan bahwa kita perlu mengasihi dengan kasih yang bebas dari segala macam isyarat dan amoral. Perbuatan-perbuatan buruk yang disebutkan pada ayat yang 3-7 sudah tidak pantas lagi kita lakukan karena kita sudah percaya dan mengaku percaya pada Tuhan Yesus. Karena kita sudah memberi hidup baru dan menjadi penurut-penurut Allah yang lebih baik lagi.

Ditegaskan kembali pada ayat yang ke-5 bahwa orang-orang bercela tidak ada yang mendapat bagian dalam Kerajaan Surga. Baik orang Kristen maupun tidak, jika mereka hidup dengan cara-cara tersebut, maka mereka tidak akan mendapatkan keselamatan yang daripada Allah, karena mereka sendiri yang tidak membiarkan Allah hadir dan hidup di dalam hati dan tubuh mereka dan jangan sampai kita menerima atau mendatangkan murka Allah seperti yang dikatakan dalam ayat yang ke-6.

Pdm. Krisna menggunakan sebuah analogi berupa mata kita dan penglihatannya. Mata dan penglihatan kita akan bekerja dengan luar biasa ketika terang ada di sekitar kita. Namun, ketika lampu tiba-tiba padam, kinerja mata kita akan sama-sama padam juga dan menyebabkan kita tidak bisa melihat apapun yang ada di sekitar kita. Selang waktu berjalan, mata kita akan semakin beradaptasi dengan kegelapan, hingga pada akhirnya mata kita akan menjadi lebih sensitif dengan apa yang ada di sekitar kita; walaupun tidak ada terang. Sama halnya dengan mata, pergaulan yang ada di antara kegelapan, harus kita waspadai karena sekali kita sudah masuk ke dalamnya dan bertoleransi dengan mereka, maka akan susah untuk kita bisa keluar dari sana.

Perkembangan teknologi juga bisa menjadi umpan besar untuk kita bisa terjun ke dalam pergaulan yang salah. Justru mari kita gunakan perkembangan teknologi digital yang ada sebagai wadah kita untuk menjadi berbeda dengan dunia ini, menjadi terang di lingkungan dunia maya kita, bahkan untuk terus memberitakan kabar baik kepada lebih banyak orang.

Paulus mengajarkan kepada jemaat di Efesus dan kepada kita untuk mengambil langkah-langkah kehidupan yang pantas dan yang berkenan kepada Allah. Sama halnya dengan ketika kita memegang remote televisi dan memilih satu channel untuk kita lihat, yang berarti selama beberapa waktu ke depan kita membiarkan diri kita untuk dipengaruhi oleh channel tersebut, begitu pula ketika kita menyerahkan diri kepada Tuhan, maka mari kita biarkan Tuhan dengan segala FirmanNya dan kasihNya untuk mempengaruhi kehidupan kita.

Maka dari itu, untuk berjalan dalam kasih mari kita senantiasa meminta bimbingan dari Tuhan Yesus agar di dalam setiap langkah hidup kita, kita bisa meneladani Tuhan Yesus dengan kasih yang murni. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin!

https://www.youtube.com/watch?v=51qXfhF2O6E

“SIAPAKAH GEREJA ITU?” – EFESUS 4 : 14-32

BINCANG BESTARI EPISODE 8 oleh Pdt. Ardi Pdt. Ardi Yusuf Wiriadinata, M.Th, S.Psi

Jika kita mengingat Bincang Bestari episode 7, kita telah belajar mengenai ada lima peran kepemimpinan RaNa PiPi GemPeng yang harus ada di setiap gereja karena Tuhan telah mengaruniakan bagaimana sebuah gereja untuk mencapai satu kesatuan.

Pada episode ke-8 ini, kita akan belajar dari Efesus 4 : 14-32, ketika kita lima peran itu dijalankan di dalam gereja akan ada hasil yang luar biasa, tujuan yang sangat indah ketika kita dapat saling melengkapi, ketika diperlengkapi, dan kita memperlengkapi tubuh Kristus.

Kesatuan tubuh Kristus menghasilkan 5 fungsi peran kepemimpinan tersebut adalah:

1. Keteguhan iman yang tidak tergoyahkan oleh tsunami penganiayaan, kita akan terus bertumbuh ke arah Kristus karena Dia adalah pusat dari segalanya.

2. Perubahan hidup atau transformasi, kita sebagai anak-anak Tuhan, bersatu dalam tubuh Kristus dan kita dipanggil untuk menjadi ciptaan baru yang harus kita alami. Perubahan total dari dalam hati, keluar sampai tingkah laku, tutur kata kita semua berubah.  Sebagai manusia baru di dalam Kristus, ada perubahan yang begitu dahsyat, ada sesuatu yang berpancar dari hidup kita. Ini adalah kesaksian yang perlu kita miliki sebagai gereja Tuhan. Kita berbeda, kita memberi rasa, kita memberi terang kepada dunia yang gelap dan tersesat ini.

Di ayat ke tujuh belas sampai ke dua puluh tiga Rasul Paulus mengingatkan, ada ciri-ciri orang yang termasuk jemaat di Efesus karena keduniawiannya telah meninggalkan Tuhan, telah meninggalkan jemaat, telah pergi karena tidak bisa bersatu. Tetapi bagi orang yang tetap bersatu dan menyadari betapa pentingnya sebagai jemaat Tuhan kita saling melengkapi, melayani, dan diperlengkapi. Kita harus membuang manusia lama dan ciri-cirinya yang sudah diperbaharui dalam roh dan kebenaran, dalam pikiran, perasaan, tingkah laku, kita diperbaharui dalam Tuhan dan kita mengenakan manusia baru.

Firman Tuhan sudah mengingatkan kepada kita tentang ciri-ciri orang yang sudah ditransformasi tersebut, ada di dalam ayat ke dua puluh lima dan seterusnya. Orang yang sungguh-sungguh percaya dalam Kristus, adalah orang-orang yang mengalami perubahan. Kalau kita menghayati bagaimana kita yang seharusnya layak menerima hukuman karena dosa dan kesalahan kita, tapi oleh karena kasih karunia yang tidak layak kita terima. Dengan iman kita percaya kepada Yesus Kristus bukan perbuatan kita, tapi karena Yesus Kristus saja telah mengaruniakan kepada kita keselamatan, mengampuni dosa dan kesalahan kita, bahkan mengangkat dan mengadopsi kita menjadi anak-anaknya. Kita sebagai ciptaan baru diberikan pembaharuan sebagai manusia baru, mungkinkah kita tidak berubah?

Ciri-ciri ini adalah ciri-ciri orang percaya dan kita sebagai semua orang percaya, baik kita memiliki jabatan Rasul, Nabi, Pemberita-Pemberita Injil, Gembala, dan Pengajar (RaNa Pipi GemPeng). Bagi Pendeta Ardi, semua adalah Jemaat Tuhan adalah orang yang luar biasa karena sudah dipanggil dan sudah ditetapkan menjadi anak-anak Allah. Anak-anak Allah bukan biasa-biasa saja, melainkan kita semua telah dipersatukan  di dalam satu-kesatuan, satu dasar, yaitu Yesus Kristus.

Oleh karena itu di dalam Jemaat Tuhan, kita perlu bersatu sehingga kita menjadi kekuatan yang tak terbendungkan. Tsunami yang melanda dunia ini menceritakan, mengabarkan tentang Yesus Kristus Tuhan dan Juruselamat, dasar dunia ini didirikan, dasar perubahan hidup yang kita alami.

Mari kita lihat di ayat ke-25, ditekankan bahwa kita adalah sesama anggota tubuh Kristus dan telah diberikan karunia oleh Tuhan, dan karunia Tuhan yang telah dipersatukan ada di dalam gerejaNya. Kristus adalah kepala kita.

Betapa indahnya kasih Kristus dalam kepenuhannya di dalam Gereja Tuhan, di mana kita adalah gereja. Kita mungkin punya karunia yang berbeda-beda, tapi semua adalah karunia Tuhan, pemberian Tuhan untuk memperkaya, memperkuat, memperkokoh Gereja Tuhan. Kita akan mengalami sebuah keindahan dari kasih Kristus dalam kepenuhannya, di dalam tubuh Kristus, gereja yang Tuhan berikan.

Kepenuhan gerejawi dihasilkan ketika peran-peran dijalankan yaitu RaNa PiPi GemPeng, melengkapi jemaat umum untuk menemukan makna penuh dari menjadi pengikut Kristus yang sejati. Sesama pengikut Kristus sejati, kita perlu memiliki proses pertumbuhan, di mana Tuhan sudah mengaruniakan jabatan-jabatan kepemimpinan tersebut.

Saya adalah gereja, kamu adalah gereja, kita adalah gereja.

https://www.youtube.com/watch?v=jpNQE4xnKko

Rahasia Iman Orang Kristen – Efesus 1:15-23

Bincang Bestari #2 Oleh Pdt. Dr. Drs. Yosia Wartono

Bacaan:
Efesus 1:15-23
(15) Karena itu, setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus,
(16) aku pun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku,
(17) dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.
(18) Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus,
(19) dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya,
(20) yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga,
(21) jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang.
(22) Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.
(23) Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.

Dalam surat Paulus kepada jemaat di Efesus pada Efesus 1:15-23, ada 3 bagian yang sangat berharga yang dapat ditemukan. 

  • Iman yang mendalam dan mengakar serta perbuatan kasih.

“Karena itu, setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, aku pun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku,” – Efesus 1:15-16

Penyebab mengapa Paulus mengucap syukur dan mendoakan jemaat di Efesus adalah kehidupan yang mendalam dan mengakar dalam Kristus. Demikian Paulus melihat iman orang-orang Efesus, demikian juga iman orang percaya yang mendalam dan mengakar dalam Kristus dapat membuat orang lain mengucap syukur. Paulus juga mengucap syukur karena orang Efesus mempunyai kasih, menyatakan kasih, dan perbuatan-perbuatan mereka yang berlandaskan kasih kepada orang-orang kudus. Maka dari itu, iman dan kasih kita kepada Tuhan dan sesama merupakan kekuatan yang dapat menyebabkan orang mengucap syukur, terutama orang yang melayani engkau, orang-orang kudus, hamba-hamba Tuhan. Mereka mengucap syukur ketika melihat imanmu dan kasihmu. Paulus melihat bukan hanya mengucap syukur selalu mengingat di dalam doanya. Demikian juga hamba-hamba Tuhan yang selalu mengingat dan membawa kita dalam doanya.

  • Apa yang membuat iman semakin tertancap dan mengakar?

“dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya,” – Efesus 1:17-19

Paulus berdoa, meminta kepada Allah memberi hikmat dan wahyu untuk mengenal Allah dengan benar. Paulus begitu teguh berdoa supaya Dia menjadikan mata hatimu terang. Supaya setiap orang di Efesus, mengenal kuasaNya yang hebat. Ketika seseorang mengenal Tuhan, ia akan mengerti pengharapan apa yang ada dalam Kristus, akan memahami kuat kuasa apa yang disediakan dan memahami indahnya hidup di dalam Kristus, bahwa tidak dihantui oleh ketakutan, kekhawatiran yang menghambat, karena kuat kuasanya yang hebat melampaui segala kesulitan dan hambatan rintangan yang kita hadapi. 

“yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang” – Efesus 20:21

Yesus lebih tinggi dari segala pemerintah dan segala penguasa. Bahkan, segala yang dapat disebut tidak dapat melampaui kuasa Yesus Kristus. Bukan hanya di dunia ini saja, tapi juga di dunia yang akan datang. Yesus pernah menyampaikan bahwa, ‘segala kuasa yang ada di surga dan di bumi telah diberikan dalam nama-Ku’ (Matius 28:18). Kuasa Yesus melampaui segalanya karena dia adalah Allah. Maka, tidak ada kesulitan yang tidak dapat diatasi kalau Kristus ada di kehidupan kita.

  • Kristus adalah kepala gereja.

“Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.” – Efesus 1:22

Kita perlu menyadari bahwa segala sesuatu telah diletakkannya di bawah kaki kristus. Dia diberikan posisi sebagai kepala dari segala yang ada. Kristus adalah kepala gereja dan gereja berada di bawah otoritas kedaulatan Kristus. Posisi Kristus sebagai kepala tidak bisa diambil alih oleh siapapun. Oleh karena kesuksesan dan kehebatan dunia serta merasa segala sesuatu ada di tangan manusia tetapi posisi Kristus sebagai kepala tidak dapat diambil alih. Segala yang ada dalam gereja tunduk akan kehendak Kristus, apapun jabatan dan posisinya.

“Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.” Efesus 1:23

Jemaat adalah tubuh-Nya. Kedaulatan dan kekuasaanNya menguasai semua sendi kehidupan gereja. Hal ini haruslah diingat supaya siapapun tidak ada yang berusaha melakukan reposisi dengan alasan dan argumen apapun. 

“BAGAIMANA ORANG KRISTEN MENERIMA KASIH KARUNIA?” Efesus 1: 1-14

Bincang Bestari Episode 01 oleh Pdt. Dr. Drs. Yosia Wartono

Paulus mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan jemaat di Efesus dikarenakan masa pelayanannya di sana selama 3 tahun. Kita juga dapat menyimak dari Kitab Kisah Para Rasul pasal 20, bagaimana Paulus menyampaikan pesan sebelum ia meninggalkan Efesus kepada penatua-penatua yang diberikan tugas menggembalakan jemaat Efesus. Tidak lama kemudian, Paulus secara khusus memberikan motivasi dan nasihat kepada Timotius untuk fokus dalam penggembalaan dan pelayanan pengabaran Injil. Kepedulian Paulus kepada jemaat di Efesus, sehingga ia menulis Kitab Efesus ketika ia berada dalam bilik penjara. Tujuan adanya kitab Efesus itu sendiri ialah Paulus ingin menolong jemaat untuk memahami bahwa gereja semestinya dioperasionalkan oleh setiap orang-orang yang dipercayai oleh Tuhan dan dipanggil secara khusus untuk mengambil bagian di dalam hidup bergereja. Kitab ini ditulis dalam 6 pasal, di antaranya yaitu pasal 1-5 yang berkaitan dengan jemaat dan gereja. Sedangkan pada pasal yang ke-4 menjelaskan bagaimana jemaat hidup bertumbuh dan berkembang dan menjadi berkat.

Pada pasal 1:1-14, Paulus menjelaskan betapa besar kasih karunia Allah pada setiap kita. Ayat yang ke 3-6 berbunyi demikian: “3Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. 4Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. 5Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, 6supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.”

Betapa besar kasih karunia Allah kepada kita dan hal inilah yang Paulus ingin setiap orang percaya pahami. Ketika dengan kesungguhan hati kita memahami betapa besar kasih karunia Allah kepada kita, maka kita akan memuji kasih karuniaNya yang begitu besar. Seperti dalam Yohanes 3:16 yang berbunyi demikian “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”, dari kutipan Yesus ini kita mengetahui bahwa Yohanes juga dapat mendalami betapa besar kasih karunia Allah yang diterimanya.

Lalu, mengapa Paulus mengatakan betapa besar kasih karunia Allah kepada kita yang dikerjakan oleh Allah Bapa di dalam Kristus Yesus menurut rencana kerelaanNya? Dalam ayat yang ketiga menjelaskan bahwa di dalam Kristus, Allah telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga. Ketika pernyataan ini diberitahukan, kita dapat mengerti bahwa setiap orang yang ada di dalam Kristus, ia telah diberikan jaminan surga dan segala berkat rohani di dalam surga disediakan untuk kita semua.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa Tuhan memberikan kasih karuniaNya kepada kita? Apakah kita ini orang yang layak? Apakah kita pantas? Apakah karena kehebatan atau usaha atau kesalehan atau kebaikan kita?

Paulus mengatakan bahwa Allah telah memilih dan menentukan kita semua bahkan sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya dan supaya kita dapat menikmati berkat rohani dalam surga, seperti yang dikatakan dalam ayat yang keempat. Sejak kita menerima Tuhan sebagai Juru Selamat kita, dengan demikian telah dibukakan rahasia kenikmatan hidup surgawi kepada kita. Dan selama di dunia kita hidup sesuai dengan kehendakNya, maka kita akan dapat menikmati dan menebarkan suasana surga di manapun kita berada.

Pada ayat yang keenam, Paulus memberi penegasan bahwa di dalam Kristus, Allah telah menentukan kita dari semula untuk menjadi anak-anakNya sesuai dengan kerelaan kehendakNya. Segala rancangan keselamatan dari Allah diinisiasi, dilaksanakan, dan dinyatakan oleh Allah sendiri kepada kita semua.

Setiap orang yang memahami kasih karunia Allah akan memberikan apresiasi kepada Allah dalam rupa sembah sujud dan puji-pujian kepadaNya. Layaknya John Newton, pencipta dari lagu ‘Amazing Grace’ yang menyatakan kebesaran kasih Tuhan melalui sebuah lagu yang mendunia hingga saat ini.

Kemuliaan Allah telah dipercayakan kepada kita melalui kehidupan kita masing-masing. Pada jaman dahulu, Tidak semua orang tahu mengenai rahasia ini, hingga akhirnya Paulus menulis kitab ini agar jemaat di Efesus dan juga kita mengetahui rahasia yaitu bahwa kita semua diberkati oleh kasih karunia Tuhan. Detik ketika kita menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita, menjadi detik di mana rancangan keselamatan Allah untuk kita sudah sah dinikmati oleh kita orang yang percaya, dan sejak saat itulah iman kita telah dimateraikan dan dipelihara oleh Roh Kudus. Dalam ayat yang ke-14 berbunyi demikian“Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.”. Kita dipilih dan ditentukan dari semula oleh Allah supaya kita dapat menjadi puji-pujian bagi Dia dan supaya oleh kita namaNya ditinggikan dan dipuji oleh semua orang.

Mari senantiasa menjaga diri agar kita tidak bercacat dan tidak bercela dihadapan Allah dan di hadapan sesama. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin!

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. (Matius 5:16)”

Darah Yesus Mendamaikan Manusia? – Efesus 2:11-22

Bincang Bestari #4  Oleh Pdt. Dr. Drs. Yosia Wartono 

Bacaan:
Efesus 2:11-22 

(11) Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu — sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya “sunat”, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, —
(12) bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.
(13) Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu “jauh”, sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus.
(14) Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,
(15) sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,
(16) dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.
(17) Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang “jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang “dekat”,
(18) karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.
(19) Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,
(20) yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.
(21) Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.
(22) Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh. 

Pada bacaan ini, Paulus ingin mengingatkan seluruh anggota Jemaat Efesus, bahwa mereka adalah orang-orang percaya latar belakang bukan orang Yahudi. 

“Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu — sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya “sunat”, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, — bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.” – Efesus 3:11-12

Di kaca pandang orang-orang Yahudi, jemaat Efesus bukan saja orang-orang yang tidak mendapat bagian dari apa yang dijanjikan tetapi juga disebut orang-orang yang hidup tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia ini. Namun, itu adalah masa lalu. Paulus mengingatkan jemaat Efesus, semestinya mereka adalah orang yang hidup tanpa pengharapan, tanpa Allah, dan tidak termasuk orang yang tidak mendapatkan bagian dalam ketentuan yang dijanjikan oleh Allah. Di dalam Kristus dan hanya oleh darah-Nya, mereka yang dahulu disebut sebagai orang yang jauh atau mungkin juga disebut sebagai orang luar Yahudi, yang tidak akan mendapatkan jaminan janji dari trah keturunan Abraham, telah menjadi dekat (ayat 13). 

Dahulu, orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi, sulit sekali untuk duduk bersama. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Hal tersebut dikarenakan superioritas orang-orang Yahudi, yang memandang orang lain lebih rendah dibandingkan dirinya. Sulit sekali bagi mereka untuk dapat hidup bersama menjadi satu. Namun, oleh darah Kristus melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib, Paulus ingin menjelaskan tidak ada lagi orang Yahudi dan bukan Yahudi. Sebab semua tembok perseteruan yang ada di antara kita telah dihancurkan. Kesenjangan yang ada dan memisahkan kita telah dijembatani (ayat 14). Oleh darah Kristus melalui kematiannya di atas kayu salib, semua yang ada di dalam-Nya, telah didamaikan dengan Allah dan juga dengan sesama.

Seperti yang kita alami saat ini, kita dapat duduk bersama, bersanding dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan perbedaan. Di dalam Kristus, kita dapat hidup berdampingan dalam anugerah damai sejahtera yang datang dari Allah (ayat 15). Semua tembok telah dihancurkan dan semua kesenjangan telah dijembatani. Maka dari itu, sudah tidak ada lagi permusuhan, perseteruan, dan kebencian. Tidak ada lagi akar pahit yang menyimpan kemarahan terhadap satu dengan yang lainnya. Semua dosa dan noda yang menyebabkan kita tidak bisa rukun damai dengan orang lain, sudah ditebus oleh darah Tuhan Yesus Kristus. 

Keharmonisan hubungan dengan Allah dan dengan sesama dapat dinikmati. Dapat intim dengan Tuhan Allah dan akrab dengan sesama. Hal ini dikarenakan anugerah Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus. Oleh karena itu, Paulus menggarisbawahi: 

“Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah” – Efesus 3:19

Sekarang kita ada di dalam Kristus, bukan pendatang maupun orang asing tetapi keluarga Allah. Kita semua adalah kawan sewarga dari orang-orang Kudus. Sejak menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita telah menerima pengampunan dosa.

Jadi, kita semua adalah anggota keluarga Allah dan persaudaraan kita di dalam Dia adalah sekarang sampai selama-lamanya. Sebab persaudaraan yang sudah dibangun oleh Kristus bukan hanya untuk kita di dunia saja, tetapi juga di Surga. Oleh karena itu, tugas dan tanggung jawab kita adalah selalu menjaga tali kekerabatan, persaudaran, dan hubungan harmonis, di antara satu dengan yang lainnya. Pikiran, perasaan, dan perbuatan yang menyebabkan kita berseteru harus dijauhkan dan digantikan dengan pikiran, perasaan, dan perbuatan yang mendatangkan persekutuan, keakraban, dan satu sama lain dapat menikmati damai sejahtera Allah dengan sukacita. Sehingga, setiap orang percaya selalu merindukan hidup bersama dalam persekutuan yang indah di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Dua orang bersekutu dalam nama-Ku, dua orang sepakat meminta apapun di dalam dunia ini, Bapa di Surga mengabulkannya. Bapa memberikan jaminan pemeliharaan yang tiada terkira kepada kita semuanya. 

“Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan; Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh” – Efesus 2:20, 22. 

Anggota keluarga Allah dibangun rapi tersusun menjadi Bait Allah yang kudus. Hal itu menjelaskan bahwa kita, anggota gereja, sebagai Bait Allah yang kudus memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menjaga kekudusan dalam kehidupan bergereja, supaya tetap kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Secara kolektif, kita punya tanggung jawab yaitu menjaga kekudusan gereja-Nya. Secara pribadi, kita juga menjaga kekudusan diri kita, sebab kita adalah tempat kediaman Allah di dalam Roh. Segala sesuatu yang mencederai kehidupan gereja dan juga kehidupan personal harus kita jauhkan.

Rapi tersusun di dalam Kristus (ayat 21) berarti harmonisasi kehidupan bergereja. Bukan bangunan organisasi yang dirancang bangun oleh manusia tetapi harus didasarkan dari rancang bangun Yesus Kristus sendiri. Gereja harus dioperasionalkan sesuai dengan keinginan dan kemauan Tuhan Yesus Kristus. Dengan demikian, pasti gereja-Nya akan terbangun menjadi bangunan Bait Allah yang rapi tersusun, yang kudus di mata Allah dan berwibawa di mata manusia. Demikian juga ketika kita bertanggung jawab menjaga diri kita sebagai tempat kediaman Allah yang kudus, maka dikatakan: “Berbahagia lah orang yang suci hatinya karena dia akan melihat Allah” (Mat 5:8). Begitu luar biasanya apabila dalam hidup keseharian kita selalu melihat kepada Allah, melihat kehadiran dan keberadaan Allah. Maka, kita akan dapat menjaga diri dengan tegas, tertib, dan disiplin agar tetap berkenan di hadapan Tuhan.

Segala tembok yang ada di antara kita telah dihancurkan dan semua kesenjangan yang ada di antara kita telah dijembatani. Hanya oleh karena darah Kristus dan kematian-Nya di atas kayu salib, telah menganugerahkan kita damai sejahtera-Nya dalam kehidupan bersama. Kita selalu bisa duduk bersama, duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Kita adalah kawan sewarga dari orang-orang kudus dan kita adalah anggota-anggota keluarga Allah. Kita juga dibangunkan menjadi Bait Allah yang kudus dan secara personal kita sendiri adalah tempat kediaman Allah di dalam Roh. Dengan demikian setiap orang percaya akan selalu dapat bersekutu dan menyembah Allah. 

Bagaimana Gereja Menunjukkan Kemuliaan Tuhan? – Efesus 3:14-21

Bincang Bestari #6 Oleh Pdt. Ardi Yusuf Wiriadinata, M.Th, S.Psi

Bacaan:
Efesus 3:14-21

(14) Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa,
(15) yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya.
(16) Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,
(17) sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.
(18) Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,
(19) dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
(20) Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,
(21) bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.

Sedikit pengalaman saat saya melihat matahari terbenam di Grand Canyon. Banyak orang yang berasal dari berbagai macam suku bangsa berkumpul di sana. Dari asal katanya, Grand Canyon berarti ngarai yang begitu besar. Panjangnya adalah 450 kilometer, seperti jarak dari Jakarta ke Semarang. Saya mendokumentasikan beberapa foto dan besar sebenarnya Grand Canyon tidak dapat digambarkan hanya dengan foto saja. Kita harus melihat sendiri untuk merasakan dahsyatnya dan indahnya matahari terbenam di sana. Seringkali, di dalam gereja dan pelayanan, kita senang menunjukkan foto kita. Lalu, mengunggahnya melalui media sosial. Namun, jika tidak memahami di dalam Alkitab tentang apa itu gereja, ternyata foto-foto tersebut tidak ada bandingnya. Hubungan yang terjalin, pemuridan, dan transformasi hidup, dapat terjadi di dalam gereja hanya oleh karena Kristus Yesus. Terlibat di dalam gereja bukan hanya sebuah foto tetapi juga harus ‘menjadi’ gereja dengan melayani. Maka, janganlah kita cukup puas dengan menunjukkan foto saja tetapi kita perlu untuk terjun ke dalamnya. Karena kasih-Nya tidak sebanding dengan foto-foto indah yang dapat kita tayangkan.

  • “Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya” – Efesus 2:14-15 

Paulus menyatakan oleh karena keistimewaan dan anugerah, Paulus dapat menjadi pelayan Tuhan, melayani orang-orang non-Yahudi yang sebenarnya tidak layak menerima keselamatan. Walaupun harus dipenjara, tetapi Injil lebih berharga. ‘Itulah sebabnya, Paulus sujud kepada Bapa’, karena Bapa, yang memberi Injil, lebih berharga daripada nyawa Paulus sendiri. Karya keselamatan dari Yesus Kristus sungguh mulia dan agung, Dia layak untuk disembah. Dengan kerendahan hati, Paulus mau mendoakan Jemaat Efesus, supaya lebih baik, kuat, dan secara tulus dapat mengenal kasih Kristus. Demikian juga kita, perlu untuk merendahkan diri dan saling mendoakan. Dengan kasih yang sama di dalam kepenuhan Allah, kita bersatu dan saling mengasihi walaupun berbeda-beda. Mungkin kita menganggap orang lain lebih rendah dan tidak layak tetapi kita perlu merendahkan diri dan saling mendoakan. Demi pembangunan tubuh Kristus yang telah tersusun rapi dengan Tuhan Yesus sebagai kepala, kita perlu mendoakan jemaat Tuhan.

Melalui tiga pernyataan Paulus, ‘Aku berdoa’ kita dapat belajar bagaimana kita dapat saling mendoakan. 

  • Efesus 3:16-17 – “Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih”

Hal yang perlu diteladani adalah kita mendoakan supaya sesama jemaat Tuhan menyadari, mengenal, dan merasakan bahwa kasih karunia dari Yesus Kristus itu murni, kuat, dan tahan uji. Dasar dari Injil Kristus adalah kasih yang sempurna atau kasih Agape dari Yesus Kristus. Kita perlu memiliki Agape karena itu adalah dasar dari tubuh Kristus dan Injil sebagai kabar baik berbicara tentang betapa besarnya kasih Tuhan Allah kepada manusia.

  • Efesus 3:18-19a – “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan.”

Ayat ini berbicara tentang doa untuk gereja dan jemaat Tuhan. Gereja adalah jemaat bukan gedung. Gereja bukan organisasi tetapi gereja adalah kita, Anda dan saya. Semua orang percaya dapat mengenal kasih Agape, kasih yang murni tanpa pamrih dan penuh pengorbanan. Kasih yang membagikan kebaikan kepada orang yang membenci kita dan bagi orang yang tidak kita suka tanpa menginginkan timbal balik. 

Kasih sempurna Agape melampaui segala pengetahuan. Kalau kita menimbang dan menghitung, Injil tidaklah masuk akal, ‘untuk apa Tuhan Allah datang ke dunia ini, untuk apa Dia bersusah-susah menjadi manusia’. Ketika Yesus hidup sebagai manusia pun, Dia hidup sempurna dan tidak seharusnya dihukum. Tetapi, Dia rela menanggung hukuman yang seharusnya kita tanggung hanya karena kasih yang Agape. Jadi, Injil dan kasih tidak dapat dipisahkan. Untuk mengerti Injil Yesus Kristus, seseorang harus mengerti kasih dan pengorbanan Yesus Kristus. Kasih Yesus merupakan kasih yang sangat lebar, sangat panjang, sangat tinggi. Kasih itu memiliki makna yang sangat dalam. Kita perlu sungguh-sungguh memerhatikan dan saling mendoakan supaya kasih Agape dapat dimengerti dan dipahami setiap orang. 

  • Efesus 3:19b – “Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah”

Kepenuhan pada ayat tersebut adalah kepenuhan Ilahi yang Tuhan inginkan. Kondisi dimana jemaat dapat saling mengasihi, hidup di dalam persatuan. Di sanalah orang dapat melihat kemuliaan Tuhan. Jemaat Tuhan perlu untuk memahami dan mengenal kasih itu, bukan hanya tahu dan hafal. Dalam pengabaran injil (PI) misalnya, mungkin mudah sekali bagi kita untuk menghafalkan metode paling sederhana. Kita dapat menghafalkan Yohanes 3:16, Roma 3:23, Roma 6:23, dalam maupun luar kepala. Tetapi, jika hanya pengetahuan kepala saja dan tidak memahami dalam kepenuhan artinya, maka, akan sulit bagi kita untuk membagikan kasih itu. Hal itu juga tercermin dalam kita mengasihi satu dengan yang dalam gereja, kalau kita belum dapat mengasihi satu dengan yang lain di dalam gereja Tuhan sebagai keluarga, bagaimana mungkin kita dapat mengasihi orang yang belum selamat. 

“Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita”. – Efesus 3:20

Muncul pertanyaan, bukankah hanya Tuhan Allah yang dapat mengasihi dengan kasih Agape. Namun, pada perjanjian baru setiap perintah untuk mengasihi satu dengan yang lain selalu menggunakan kata Agape. Bagaimana cara kita dapat mengasihi satu dengan yang lain sama seperti Tuhan Allah mengasihi kita? Jawabannya adalah melalui kasih yang tetap ada walau berbeda-beda, walaupun ada gesekan-gesekan, kekecewaan, penipuan, atau bahkan ada kebohongan. Di dalam kasih itu, kemuliaan Tuhan terpancar dan membangun tubuh Kristus rapi tersusun dengan Kristus adalah kepala. Kita dapat mengasihi kasih Agape yang begitu panjang, lebar, luas, satu dengan yang lain karena Tuhan memberikan kepada kita kemampuan untuk melakukannya. Kemampuan untuk mengasihi dengan kasih Agape bukan alasan kita memegahkan diri. Seperti halnya keselamatan, mengasihi adalah anugerah. Tuhan adalah sumber kasih Agape itu, maka hanya Dia yang dapat melakukan jauh lebih banyak (ayat 20).

Kita dapat belajar dari tiga pernyataan aku berdoa. Yang pertama, kita harus mendoakan tentang kasih Kristus, kasih Agape, supaya kasih itu berakar di dalam hati kita, teguh dan tahan uji. Yang kedua, kita diajarkan untuk saling mendoakan supaya masing-masing kita anggota gereja dapat mengenal kasih yang tidak masuk akal, kasih Agape. Kasih Allah kepada kita, yang penuh pengorbanan, ajaib, dan tanpa pamrih. Begitu indah kasih-Nya, yang begitu lebar dan panjang dan tinggi dan dalam sehingga kasih itu yang perlu dikenal, dimiliki, dan dilakukan oleh setiap anggota gereja. Yang ketiga, kita harus saling mendoakan agar kita dapat mengalami gereja Tuhan dan merasakan kepenuhan, merasakan kuasa Allah seutuhnya. Ketika hal itu terjadi, maka terjadilah persatuan tubuh Kristus. Sehingga, kehidupan kita dalam persatuan jemaat dapat menuju kepada kemuliaan Tuhan (ayat 20-21).

Tujuan gereja yang harus senantiasa dipikirkan. Bagaimana gereja dapat menjadi kemuliaan Tuhan yang terlihat. Memancarkan kemuliaan Tuhan dapat dengan cara saling mendoakan, mengenal, menghayati kasih Agape. Oleh karena itu, kita dapat bersatu bukan hanya dalam perbedaan kita yang dipersatukan Bhinneka Tunggal Ika, tapi juga dipersatukan oleh kasih Agape Kristus. Sebagaimana Kristus telah mendoakan kita pengikutnya, demikian juga kita, apabila kita bersatu merendahkan diri, saling tunduk untuk mendoakan satu dengan yang lain, maka dunia akan mengenal Allah Bapa. 

“BHINNEKA DALAM GEREJA” – Efesus 3:1-13

Bincang Bestari Episode 05 oleh Pdt. Ardi Yusuf Wiriadinata, M.Th, S.Psi 

Negara Indonesia menyimpan banyak sekali sejarah di dalamnya. Salah satunya adalah sejarah Kerajaan Majapahit. Kerajaan yang berpusat di Jawa Timur ini mempunyai wilayah kekuasaan mulai dari Pulau Jawa, Semenanjung Malaysia, Sumatera, Borneo, Sulawesi, Maluku, Timor, Lombok, hingga sampai ke Papua bagian barat. Betapa besarnya wilayah kekuasaan Majapahit pasti diiringi dengan betapa banyaknya perbedaan yang ada di dalamnya. Mulai dari perbedaan suku, kepercayaan, budaya, hingga perbedaan bahasa. Melihat kenyataan ini, ada seorang pujangga di abad ke-14 yang bernama Mpu Tantular. Ia mencetuskan sebuah istilah yang bahkan hingga saat ini dipakai sebagai motto oleh bangsa kita yaitu ‘Bhinneka Tunggal Ika’ yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu. Negara Indonesia adalah satu walau terdiri dari banyak suku, bahasa, agama, kebudayaan, stasus sosial, dsb.

Namun lebih dari itu, ada juga Pemersatu seluruh umat manusia, Pemersatu seluruh wilayah di dunia. Yaitu Tuhan Yesus Kristus. Tanpa memandang suku, atau orang-orang yang berperilaku baik, atau orang khusus saja, tetapi siapa saja yang beriman kepadaNya akan diselamatkan. Hal inilah yang akan mempersatukan seluruh umat manusia. Baik satu kesatuan sebagai gereja universal – kumpulan orang-orang percaya –, maupun juga kesatuan di gereja-gereja lokal kita. Karena kita sudah ditebus dan menjadi ciptaan baru, maka kita semuanya adalah satu keluarga. Satu keluarga di dalam Kristus inilah yang disebut dengan gereja Tuhan. Dan dengan bagiannya masing-masing di dalam gereja, kita disebut sebagai tubuh Kristus. Sama halnya dengan Bhinneka Tunggal Ika di mana tubuh dengan bagian dan bentuk yang berbeda tetapi menjadi satu kesatuan, begitupun gereja dengan anggota tubuh yang berbeda-beda dan Tuhan Yesus yang menjadi kepalanya.

Efesus 3:1 berbunyi demikian; Itulah sebabnya aku ini, Paulus, orang yang dipenjarakan karena Kristus Yesus untuk kamu orang-orang yang tidak mengenal Allah”. Karena Kristus dan betapa pentingnya tubuh Kristus, membuat Paulus rela dipenjarakan dan rela mengabarkan Injil kepada orang-orang non-Yahudi. Dalam ayat yang ke-2 dan ke-3; 2— memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu,3yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu, seperti yang telah kutulis di atas dengan singkat.” Pernyataan apa yang diwahyukan kepada Paulus sehingga ia rela untuk datang dan memberitakan Injil kepada orang-orang non-Yahudi? Terdapat dalam Efesus 2:8-9 yang berkata; 8Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, 9itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”. Banyak orang yang membanggakan dirinya sendiri, termasuk bangsa Yahudi yang membanggakan diri sebagai umat pilihan Allah. Namun dari ayat ini, Paulus menegaskan bahwa orang non-Yahudi juga sama pentingnya karena kasih karunia adalah pemberian dari Allah dan tidak memandang perbedaan.

Dalam ayat yang ke-4 sampai ayat ke-6; 4Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui dari padanya pengertianku akan rahasia Kristus, 5yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus, 6yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus.” Dari ayat ini, dikatakan bahwa orang-orang non-Yahudi juga merupakan ahli waris keselamatan dari Tuhan Yesus. Kasih karunia tidak memandang fisik, suku bangsa, atau karena perbuatan baik.

Hal inilah yang membawa satu tema besar di kitab Efesus. Yaitu persatuan di dalam tubuh Kristus. Jikalau kita sadar bahwa keselamatan diberikan untuk semua orang, berarti semua orang sama-sama berharga. Apapun suku bangsa, status sosial, atau perbedaan lainnya. Mungkin ada kalanya kita susah untuk menerima hal ini, karena tekanan yang kita alami dari beberapa pihak atau karena perlakuan terhadap minoritas, dsb. Namun, hal ini yang juga harus kita terima, bahwa orang-orang tersebut juga akan menikmati Kerajaan Tuhan bersama-sama dengan kita. Inilah kabar baik untuk jemaat di Efesus ataupun untuk semua orang. Bahwa, keselamatan adalah hak semua orang dan dengan demikian di dalam gereja, semua anggota tubuh Kristus memiliki nilai yang sama.

Mari kita masuk pada aplikasi renungan kali ini. Pada ayat yang ke-7; Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya.” Karena kita sudah menerima Injil Kristus dan diperuntukkan untuk semua orang, yang semua orang dipersatukan, maka kita perlu menjadi pelayan dari Injil itu. Jika kita bisa menjadi pelayan Injil, itu semua karena kemurahan dan kasih karunia Tuhan. Maka, tidak baik bagi kita untuk memegahkan diri walaupun mungkin kita mengalami kesusahan, penderitaan, bahkan dipenjarakan ketika kita melayani Tuhan.

Pada ayat yang ke-8 sampai ayat ke-11; 8Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu, 9dan untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah, yang menciptakan segala sesuatu, 10supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga, 11sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Penetapan peran pelayanan merupakan sebuah keistimewaan. Dan sesungguhnya tidak ada yang layak untuk menerimanya. Namun, melalui ayat-ayat ini, Paulus ingin membongkar anggapan bahwa keselamatan hanya milik orang Yahudi, karena Tuhan Yesus adalah Juru Selamat semua umat manusia, semua suku dan semua bangsa yang beriman kepadaNya.

Di dalam ayat yang ke-12 dan ke-13; 12Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya. 13Sebab itu aku minta kepadamu, supaya kamu jangan tawar hati melihat kesesakanku karena kamu, karena kesesakanku itu adalah kemuliaanmu.”  Yesus Kristus karena pengorbananNya di atas kayu salib telah menjadi perantara antara keterpisahan kita dengan Allah yang telah rusak akibat dosa. Ia mengaruniakan jalan untuk kita bisa bersatu denganNya dan dengan manusia yang lain, terlepas dari segala perbedaan yang ada. Dan ketika kita melihat perjuangan ataupun penderitaan saudara seiman dan Hamba Tuhan ketika melayani Tuhan, Paulus menegaskan bahwa ini bukan sebuah kesedihan melainkan membawa kemuliaan karena kita melayani sesuatu yang lebih berharga. Hal inilah yang seharusnya menjadi kekuatan untuk kita semua. Yaitu untuk saling melayani sebagai bagian dari tubuh Kristus, walaupun kita harus menderita karenanya dan walaupun membawa latar belakang dan kondisi yang berbeda-beda. Namun, di dalam kebhinekaan itu kita tetap satu di dalam Yesus Kristus. Karena Injil lebih berharga dari apapun juga sehingga Paulus rela menderita, maka haruslah kita juga rela melayani Injil itu.

Pdt. Ardi menutup renungan ini dengan satu kesaksian ketika beliau pergi ke Amerika Serikat dan mengunjungi Grand Canyon. Di sana, berkumpulah orang-orang dari berbagai belahan bumi yang berbeda, untuk menikmati keindahan matahari terbenam dan menikmati kemegahan ciptaan Tuhan tersebut. Ketika proses matahari terbenam sudah selesai, Pdt. Ardi melihat orang-orang di sekitarnya yang tidak mengenal satu sama lain saling berjabat tangan dan berpelukan, memuji keindahan ciptaan Tuhan. Itulah sebuah persatuan, meski ratusan orang di sana tidak saling mengenal. Pada saat itu, orang tidak melihat warna kulit atau bahasa yang dibicarakan, tetapi mereka hanya fokus menikmati kuasa Allah.

Sama halnya dengan kita yang telah diselamatkan dan menerima kasih karunia Allah. Dengan meninggalkan segala perbedaan dan kebencian yang ada, mari kita bersama-sama melayani Tuhan, menjadi tubuh Kristus yang solid dan menjunjung tinggi persatuan. Semuanya itu hanya untuk kemuliaan Tuhan. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin!