Darah Yesus Mendamaikan Manusia? – Efesus 2:11-22

Bincang Bestari #4  Oleh Pdt. Dr. Drs. Yosia Wartono 

Bacaan:
Efesus 2:11-22 

(11) Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu — sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya “sunat”, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, —
(12) bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.
(13) Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu “jauh”, sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus.
(14) Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,
(15) sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,
(16) dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.
(17) Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang “jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang “dekat”,
(18) karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.
(19) Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,
(20) yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.
(21) Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.
(22) Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh. 

Pada bacaan ini, Paulus ingin mengingatkan seluruh anggota Jemaat Efesus, bahwa mereka adalah orang-orang percaya latar belakang bukan orang Yahudi. 

“Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu — sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya “sunat”, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, — bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.” – Efesus 3:11-12

Di kaca pandang orang-orang Yahudi, jemaat Efesus bukan saja orang-orang yang tidak mendapat bagian dari apa yang dijanjikan tetapi juga disebut orang-orang yang hidup tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia ini. Namun, itu adalah masa lalu. Paulus mengingatkan jemaat Efesus, semestinya mereka adalah orang yang hidup tanpa pengharapan, tanpa Allah, dan tidak termasuk orang yang tidak mendapatkan bagian dalam ketentuan yang dijanjikan oleh Allah. Di dalam Kristus dan hanya oleh darah-Nya, mereka yang dahulu disebut sebagai orang yang jauh atau mungkin juga disebut sebagai orang luar Yahudi, yang tidak akan mendapatkan jaminan janji dari trah keturunan Abraham, telah menjadi dekat (ayat 13). 

Dahulu, orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi, sulit sekali untuk duduk bersama. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Hal tersebut dikarenakan superioritas orang-orang Yahudi, yang memandang orang lain lebih rendah dibandingkan dirinya. Sulit sekali bagi mereka untuk dapat hidup bersama menjadi satu. Namun, oleh darah Kristus melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib, Paulus ingin menjelaskan tidak ada lagi orang Yahudi dan bukan Yahudi. Sebab semua tembok perseteruan yang ada di antara kita telah dihancurkan. Kesenjangan yang ada dan memisahkan kita telah dijembatani (ayat 14). Oleh darah Kristus melalui kematiannya di atas kayu salib, semua yang ada di dalam-Nya, telah didamaikan dengan Allah dan juga dengan sesama.

Seperti yang kita alami saat ini, kita dapat duduk bersama, bersanding dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan perbedaan. Di dalam Kristus, kita dapat hidup berdampingan dalam anugerah damai sejahtera yang datang dari Allah (ayat 15). Semua tembok telah dihancurkan dan semua kesenjangan telah dijembatani. Maka dari itu, sudah tidak ada lagi permusuhan, perseteruan, dan kebencian. Tidak ada lagi akar pahit yang menyimpan kemarahan terhadap satu dengan yang lainnya. Semua dosa dan noda yang menyebabkan kita tidak bisa rukun damai dengan orang lain, sudah ditebus oleh darah Tuhan Yesus Kristus. 

Keharmonisan hubungan dengan Allah dan dengan sesama dapat dinikmati. Dapat intim dengan Tuhan Allah dan akrab dengan sesama. Hal ini dikarenakan anugerah Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus. Oleh karena itu, Paulus menggarisbawahi: 

“Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah” – Efesus 3:19

Sekarang kita ada di dalam Kristus, bukan pendatang maupun orang asing tetapi keluarga Allah. Kita semua adalah kawan sewarga dari orang-orang Kudus. Sejak menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita telah menerima pengampunan dosa.

Jadi, kita semua adalah anggota keluarga Allah dan persaudaraan kita di dalam Dia adalah sekarang sampai selama-lamanya. Sebab persaudaraan yang sudah dibangun oleh Kristus bukan hanya untuk kita di dunia saja, tetapi juga di Surga. Oleh karena itu, tugas dan tanggung jawab kita adalah selalu menjaga tali kekerabatan, persaudaran, dan hubungan harmonis, di antara satu dengan yang lainnya. Pikiran, perasaan, dan perbuatan yang menyebabkan kita berseteru harus dijauhkan dan digantikan dengan pikiran, perasaan, dan perbuatan yang mendatangkan persekutuan, keakraban, dan satu sama lain dapat menikmati damai sejahtera Allah dengan sukacita. Sehingga, setiap orang percaya selalu merindukan hidup bersama dalam persekutuan yang indah di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Dua orang bersekutu dalam nama-Ku, dua orang sepakat meminta apapun di dalam dunia ini, Bapa di Surga mengabulkannya. Bapa memberikan jaminan pemeliharaan yang tiada terkira kepada kita semuanya. 

“Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan; Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh” – Efesus 2:20, 22. 

Anggota keluarga Allah dibangun rapi tersusun menjadi Bait Allah yang kudus. Hal itu menjelaskan bahwa kita, anggota gereja, sebagai Bait Allah yang kudus memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menjaga kekudusan dalam kehidupan bergereja, supaya tetap kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Secara kolektif, kita punya tanggung jawab yaitu menjaga kekudusan gereja-Nya. Secara pribadi, kita juga menjaga kekudusan diri kita, sebab kita adalah tempat kediaman Allah di dalam Roh. Segala sesuatu yang mencederai kehidupan gereja dan juga kehidupan personal harus kita jauhkan.

Rapi tersusun di dalam Kristus (ayat 21) berarti harmonisasi kehidupan bergereja. Bukan bangunan organisasi yang dirancang bangun oleh manusia tetapi harus didasarkan dari rancang bangun Yesus Kristus sendiri. Gereja harus dioperasionalkan sesuai dengan keinginan dan kemauan Tuhan Yesus Kristus. Dengan demikian, pasti gereja-Nya akan terbangun menjadi bangunan Bait Allah yang rapi tersusun, yang kudus di mata Allah dan berwibawa di mata manusia. Demikian juga ketika kita bertanggung jawab menjaga diri kita sebagai tempat kediaman Allah yang kudus, maka dikatakan: “Berbahagia lah orang yang suci hatinya karena dia akan melihat Allah” (Mat 5:8). Begitu luar biasanya apabila dalam hidup keseharian kita selalu melihat kepada Allah, melihat kehadiran dan keberadaan Allah. Maka, kita akan dapat menjaga diri dengan tegas, tertib, dan disiplin agar tetap berkenan di hadapan Tuhan.

Segala tembok yang ada di antara kita telah dihancurkan dan semua kesenjangan yang ada di antara kita telah dijembatani. Hanya oleh karena darah Kristus dan kematian-Nya di atas kayu salib, telah menganugerahkan kita damai sejahtera-Nya dalam kehidupan bersama. Kita selalu bisa duduk bersama, duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Kita adalah kawan sewarga dari orang-orang kudus dan kita adalah anggota-anggota keluarga Allah. Kita juga dibangunkan menjadi Bait Allah yang kudus dan secara personal kita sendiri adalah tempat kediaman Allah di dalam Roh. Dengan demikian setiap orang percaya akan selalu dapat bersekutu dan menyembah Allah.