Bagaimana Gereja Menunjukkan Kemuliaan Tuhan? – Efesus 3:14-21

Bincang Bestari #6 Oleh Pdt. Ardi Yusuf Wiriadinata, M.Th, S.Psi

Bacaan:
Efesus 3:14-21

(14) Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa,
(15) yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya.
(16) Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,
(17) sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.
(18) Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,
(19) dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
(20) Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,
(21) bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.

Sedikit pengalaman saat saya melihat matahari terbenam di Grand Canyon. Banyak orang yang berasal dari berbagai macam suku bangsa berkumpul di sana. Dari asal katanya, Grand Canyon berarti ngarai yang begitu besar. Panjangnya adalah 450 kilometer, seperti jarak dari Jakarta ke Semarang. Saya mendokumentasikan beberapa foto dan besar sebenarnya Grand Canyon tidak dapat digambarkan hanya dengan foto saja. Kita harus melihat sendiri untuk merasakan dahsyatnya dan indahnya matahari terbenam di sana. Seringkali, di dalam gereja dan pelayanan, kita senang menunjukkan foto kita. Lalu, mengunggahnya melalui media sosial. Namun, jika tidak memahami di dalam Alkitab tentang apa itu gereja, ternyata foto-foto tersebut tidak ada bandingnya. Hubungan yang terjalin, pemuridan, dan transformasi hidup, dapat terjadi di dalam gereja hanya oleh karena Kristus Yesus. Terlibat di dalam gereja bukan hanya sebuah foto tetapi juga harus ‘menjadi’ gereja dengan melayani. Maka, janganlah kita cukup puas dengan menunjukkan foto saja tetapi kita perlu untuk terjun ke dalamnya. Karena kasih-Nya tidak sebanding dengan foto-foto indah yang dapat kita tayangkan.

  • “Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya” – Efesus 2:14-15 

Paulus menyatakan oleh karena keistimewaan dan anugerah, Paulus dapat menjadi pelayan Tuhan, melayani orang-orang non-Yahudi yang sebenarnya tidak layak menerima keselamatan. Walaupun harus dipenjara, tetapi Injil lebih berharga. ‘Itulah sebabnya, Paulus sujud kepada Bapa’, karena Bapa, yang memberi Injil, lebih berharga daripada nyawa Paulus sendiri. Karya keselamatan dari Yesus Kristus sungguh mulia dan agung, Dia layak untuk disembah. Dengan kerendahan hati, Paulus mau mendoakan Jemaat Efesus, supaya lebih baik, kuat, dan secara tulus dapat mengenal kasih Kristus. Demikian juga kita, perlu untuk merendahkan diri dan saling mendoakan. Dengan kasih yang sama di dalam kepenuhan Allah, kita bersatu dan saling mengasihi walaupun berbeda-beda. Mungkin kita menganggap orang lain lebih rendah dan tidak layak tetapi kita perlu merendahkan diri dan saling mendoakan. Demi pembangunan tubuh Kristus yang telah tersusun rapi dengan Tuhan Yesus sebagai kepala, kita perlu mendoakan jemaat Tuhan.

Melalui tiga pernyataan Paulus, ‘Aku berdoa’ kita dapat belajar bagaimana kita dapat saling mendoakan. 

  • Efesus 3:16-17 – “Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih”

Hal yang perlu diteladani adalah kita mendoakan supaya sesama jemaat Tuhan menyadari, mengenal, dan merasakan bahwa kasih karunia dari Yesus Kristus itu murni, kuat, dan tahan uji. Dasar dari Injil Kristus adalah kasih yang sempurna atau kasih Agape dari Yesus Kristus. Kita perlu memiliki Agape karena itu adalah dasar dari tubuh Kristus dan Injil sebagai kabar baik berbicara tentang betapa besarnya kasih Tuhan Allah kepada manusia.

  • Efesus 3:18-19a – “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan.”

Ayat ini berbicara tentang doa untuk gereja dan jemaat Tuhan. Gereja adalah jemaat bukan gedung. Gereja bukan organisasi tetapi gereja adalah kita, Anda dan saya. Semua orang percaya dapat mengenal kasih Agape, kasih yang murni tanpa pamrih dan penuh pengorbanan. Kasih yang membagikan kebaikan kepada orang yang membenci kita dan bagi orang yang tidak kita suka tanpa menginginkan timbal balik. 

Kasih sempurna Agape melampaui segala pengetahuan. Kalau kita menimbang dan menghitung, Injil tidaklah masuk akal, ‘untuk apa Tuhan Allah datang ke dunia ini, untuk apa Dia bersusah-susah menjadi manusia’. Ketika Yesus hidup sebagai manusia pun, Dia hidup sempurna dan tidak seharusnya dihukum. Tetapi, Dia rela menanggung hukuman yang seharusnya kita tanggung hanya karena kasih yang Agape. Jadi, Injil dan kasih tidak dapat dipisahkan. Untuk mengerti Injil Yesus Kristus, seseorang harus mengerti kasih dan pengorbanan Yesus Kristus. Kasih Yesus merupakan kasih yang sangat lebar, sangat panjang, sangat tinggi. Kasih itu memiliki makna yang sangat dalam. Kita perlu sungguh-sungguh memerhatikan dan saling mendoakan supaya kasih Agape dapat dimengerti dan dipahami setiap orang. 

  • Efesus 3:19b – “Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah”

Kepenuhan pada ayat tersebut adalah kepenuhan Ilahi yang Tuhan inginkan. Kondisi dimana jemaat dapat saling mengasihi, hidup di dalam persatuan. Di sanalah orang dapat melihat kemuliaan Tuhan. Jemaat Tuhan perlu untuk memahami dan mengenal kasih itu, bukan hanya tahu dan hafal. Dalam pengabaran injil (PI) misalnya, mungkin mudah sekali bagi kita untuk menghafalkan metode paling sederhana. Kita dapat menghafalkan Yohanes 3:16, Roma 3:23, Roma 6:23, dalam maupun luar kepala. Tetapi, jika hanya pengetahuan kepala saja dan tidak memahami dalam kepenuhan artinya, maka, akan sulit bagi kita untuk membagikan kasih itu. Hal itu juga tercermin dalam kita mengasihi satu dengan yang dalam gereja, kalau kita belum dapat mengasihi satu dengan yang lain di dalam gereja Tuhan sebagai keluarga, bagaimana mungkin kita dapat mengasihi orang yang belum selamat. 

“Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita”. – Efesus 3:20

Muncul pertanyaan, bukankah hanya Tuhan Allah yang dapat mengasihi dengan kasih Agape. Namun, pada perjanjian baru setiap perintah untuk mengasihi satu dengan yang lain selalu menggunakan kata Agape. Bagaimana cara kita dapat mengasihi satu dengan yang lain sama seperti Tuhan Allah mengasihi kita? Jawabannya adalah melalui kasih yang tetap ada walau berbeda-beda, walaupun ada gesekan-gesekan, kekecewaan, penipuan, atau bahkan ada kebohongan. Di dalam kasih itu, kemuliaan Tuhan terpancar dan membangun tubuh Kristus rapi tersusun dengan Kristus adalah kepala. Kita dapat mengasihi kasih Agape yang begitu panjang, lebar, luas, satu dengan yang lain karena Tuhan memberikan kepada kita kemampuan untuk melakukannya. Kemampuan untuk mengasihi dengan kasih Agape bukan alasan kita memegahkan diri. Seperti halnya keselamatan, mengasihi adalah anugerah. Tuhan adalah sumber kasih Agape itu, maka hanya Dia yang dapat melakukan jauh lebih banyak (ayat 20).

Kita dapat belajar dari tiga pernyataan aku berdoa. Yang pertama, kita harus mendoakan tentang kasih Kristus, kasih Agape, supaya kasih itu berakar di dalam hati kita, teguh dan tahan uji. Yang kedua, kita diajarkan untuk saling mendoakan supaya masing-masing kita anggota gereja dapat mengenal kasih yang tidak masuk akal, kasih Agape. Kasih Allah kepada kita, yang penuh pengorbanan, ajaib, dan tanpa pamrih. Begitu indah kasih-Nya, yang begitu lebar dan panjang dan tinggi dan dalam sehingga kasih itu yang perlu dikenal, dimiliki, dan dilakukan oleh setiap anggota gereja. Yang ketiga, kita harus saling mendoakan agar kita dapat mengalami gereja Tuhan dan merasakan kepenuhan, merasakan kuasa Allah seutuhnya. Ketika hal itu terjadi, maka terjadilah persatuan tubuh Kristus. Sehingga, kehidupan kita dalam persatuan jemaat dapat menuju kepada kemuliaan Tuhan (ayat 20-21).

Tujuan gereja yang harus senantiasa dipikirkan. Bagaimana gereja dapat menjadi kemuliaan Tuhan yang terlihat. Memancarkan kemuliaan Tuhan dapat dengan cara saling mendoakan, mengenal, menghayati kasih Agape. Oleh karena itu, kita dapat bersatu bukan hanya dalam perbedaan kita yang dipersatukan Bhinneka Tunggal Ika, tapi juga dipersatukan oleh kasih Agape Kristus. Sebagaimana Kristus telah mendoakan kita pengikutnya, demikian juga kita, apabila kita bersatu merendahkan diri, saling tunduk untuk mendoakan satu dengan yang lain, maka dunia akan mengenal Allah Bapa.